[03/10/2017]
Kertas di tangan Riri menjadi kusut karena digenggam terlalu keras. Napas Riri diatur naik-turun; mengikuti irama jantungnya yang tak menentu.
"Silakan mulai," ujar salah satu guru di hadapan Riri.
Riri melirik naskah di tangan. Seketika, tangannya meremas kertas itu dan melemparkan ke arah guru.
"KENAPA HARUS SAYA YANG KELUAR SEKOLAH?"
Senyap.
"Saya tahu, Bapak dan Ibu sekalian, kalau ibu saya cuma pedagang di pasar. Bapak saya kabur entah ke mana. Saya berusaha biar nggak ngeganggu siswa-siswi yang lain."
Air mata mengalir dari mata Riri.
"Tapi karena siswa terganteng di sekolah," Riri menunjuk salah satu siswa yang juga memegang naskah, "iya, Doni, suka sama saya, saya jadi nggak disukain sama dia," Riri menunjuk siswi di sisi lain, "iya, Monika?"
Raungan Riri bergema.
"Kalau Monika mau sama Doni, langsung aja! Jangan mentang-mentang Monika nge-bully saya, saya jadi dikorbankan untuk pindah sekolah!"
Isak terbit dari mulut Riri.
"Saya—saya dikorbankan. Saya nggak punya uang untuk pindah. Saya—saya pasti putus sekolah," cicit Riri.
Riri membalikkan badan; lunglai berjalan menjauh. Saat Riri menghilang dari pandangan, gemuruh tepuk tangan menggema di auditorium.
"Gila!"
"Gue kira, gue Doni!"
"Sumpah, ga kebayang seberapa bitchy-nya Monika."
"Karakter utama buat Riri aja, deh."
Riri kembali masuk ke auditorium; membaca air muka guru-guru yang akan memilih siswa untuk teater bulan itu.
"Oke Riri, terima kasih. Yang lain dulu, ya."
Riri mengambil kertas naskah yang ia lemparkan ke arah guru, menggumamkan maaf, dan duduk kembali.
***
Belum mencapai mading, Riri diserbu oleh siswa-siswi teater.
"Ririiiii."
"Jangan marah pas liat mading, ya."
Riri mengernyit, namun melihat daftar siswa yang terpilih dalam menampilkan teater bulan itu. Namanya alpa dari sana. Sebaliknya, nama putri donatur terbesar tercantum sebagai pemeran utama.
"Apa bedanya realita dengan naskah yang dibikin guru-guru!" protes anak-anak.
Di depan mading, Riri menangis.
