Pages

Sweet Dreams are Made of Screams

[SPOILER ALERT]
Disarankan untuk membaca setelah bermain Bendy and The Ink Machine Chapter 3.


"Nyaris segala hal di bumi telah menjadi paradoks."

Kalimat itu mengetuk pendengaranku begitu saja. Degup jantungku berhenti.

Aku mengangkat muka. Sosok asing berdiri di hadapanku. Jaket kulitnya terlalu tebal jika digunakan di siang terik.

Pria itu lekat menatapku. Aku mengernyit. Aku tak mengenalnya, pun aku tak ingat membuat janji dengan orang lain kala itu.

Tanpa ragu, ia duduk di sebelahku. Aku hampir mengutarakan tanya ketika menyadari buku yang tengah kugenggam. Kopi buku Plato's Meno yang kumiliki kerap menjadi teka-teki bagi yang tak sengaja melirik.

"Ah, barangkali," ucapku asal.

Aku menunduk, kembali menekuri Plato's Meno. Sesungguhnya, aku bosan dengan pertanyaan mengenai bukuku. Aku belum selesai membaca, sedangkan lawan bicara beranggapan bahwa aku tahu.

"Kau tak tahu," ucap pria itu.

Senyap.

Aku melirik pria itu. Pandanganku tak bersambut. Alih-alih, biru langit terpantul dari netranya yang gelap.

"Tak ada malaikat yang tangannya suci dari darah."

Akhirnya, aku sungguh-sungguh menatapnya. Pernyataannya memancing penasaranku.

"Tentu saja," sambarku. "Kebenaran sesungguhnya adalah perihal kepercayaan. Ada yang menganggap bahwa suci adalah perihal tangan yang kotor dengan hati murni. Padahal, secara tak langsung mereka menghina yang berposisi di atas. Mengenai orang yang dapat disebut 'di atas'–ah, tak usah kusebut contohnya. Terlalu banyak kesalahan di posisi setinggi itu."

Pria itu terhenyak. Aku langsung menutup mulut. Ah, aku tak sengaja berbicara banyak.

Pria itu tersenyum. Ia berkata, "Paradoks, ya."

Mulutnya terkunci. Tatapnya bertemu ujung sepatu. Tanpa berkata apapun, ia pergi meninggalkanku.

Aku tak melepaskan bayangnya hingga tubuhnya menghilang di balik rak perpustakaan. Ucapnya terngiang di telingaku.

Paradoks, ya?

Entah mengapa, aku menangkap rindu dari intonasinya. Ia seolah mencari cahaya dari labirin pikirannya, lalu ia menemukanku.

Sisa hari kulalui dengan mengejar kelas. Saat malam menjelang, aku terperanjat kala polisi menghentikan langkahku.

"Plato's Meno. Rambut hitam dikuncir kuda. Bajumu sama seperti yang tertangkap CCTV."

Aku tergagap menjawab, "Ada apa, ya, Pak?"

Polisi itu menjawab, "Apakah kau bertemu dengan seorang pria berjaket kulit tadi siang? Apakah kau mengenalnya?"

Ah, pria asing itu.

"Saya memang berbicara dengannya, namun saya tak mengenalnya." Aku memberi jeda sebelum memberanikan diri untuk bertanya, "Ada apa, Pak?"

"Satu jam lalu, ia bunuh diri."

Logikaku runtuh.

29 November 2017