Pages

Monochrome

Tak ada yang pergi. Tak ada yang kembali.

Keduanya menolak untuk berpisah. Mawar-mawar yang merekah di hati mereka akan layu jika tak bertemu matahari, yang tak lain adalah yang lainnya.

Setiap hari, tiap waktu, mereka tak terpisahkan. Jika yang satu beranjak ke toilet, yang lain akan setia menunggu di pintu depan. Jika yang satu akan beribadah sedangkan yang lain berhalangan, yang lain akan setia menunggu di luar. Memainkan sepatu yang sedang beribadah.

Dunia tempat mereka hidup hanya cukup untuk napas keduanya. Mereka tak mengenal orang lain. Jika mereka bersama, dunia akan takluk pada keduanya. Itulah keyakinan mereka. Kemutlakan bagi kedua sejoli itu.

Suatu hari, saat keduanya sedang menyeberangi jalan yang sepi, mereka mendapat musibah. Bis yang sedang melaju cepat oleng ke kiri dan jatuh tepat di posisi kedua insan itu. Beberapa orang di sana terkejut dan membawa keduanya serta korban lainnya ke rumah sakit.

Nasib berkata lain. Salah satu di antara keduanya masih bernapas. Yang lainnya melenggang ke tahap hidup yang selanjutnya.

Yang masih hidup menjerit. Ia melupakan orangtuanya yang sedang menunggunya. Baginya, tak ada yang lebih penting dari yang sudah pergi. Bahkan orangtuanya tak ada harganya di matanya. Dalam keadaan seperti itu, ia ingin menyusul yang telah tiada.

Ia mulai dengan menancapkan jarum infus lebih dalam. Namun, aksinya tertangkap basah. Ia bisa diselamatkan.

Tak menyerah, ia mulai menyayat seluruh tubuhnya dengan garpu yang disediakan untuk makan siang. Sialnya, usahanya kembali gagal. Seorang suster yang akan memeriksanya tiap siang memekik ketika melihat aksinya. Padahal, baru saja ia mendapatkan kesempatan emas. Ayahnya sedang menelepon. Ibunya tak menemani ayahnya di sana.

Ia frustasi. Padahal, ia sudah mati-matian menahan sakit. Sayangnya, kematian tak memihak padanya.

Suatu malam, ia tertidur. Di mimpinya, ia bertemu ia yang sudah tiada. Mereka hanya diam di pantai. Tangan keduanya saling tertaut, tak seperti biasanya. Hangat, erat, dan berarti.

Ia terbangun. Saat itulah ia melihat adiknya di hadapannya.

"Oh!"

Ia tak bergeming. Sejak dahulu, ia tak pernah kompak dengan adiknya. Satu-satunya orang di dunia ini yang mau menyelaraskan langkah dengannya hanya ia yang sudah tiada.

"Kakak ingin meregang nyawa? Aku setuju."

Dari saku jaketnya, adiknya mengeluarkan pisau. Ia tak sempat memekik. Adiknya menikamnya. Adiknya tersenyum ketika melihatnya sekarat.

"Semoga Kakak bertemu dengannya, serta sama-sama hangus di dasar neraka."

Ia tak sadarkan diri.

***

"Mati? Begitu saja?"

Aira tergopoh-gopoh berlari. Ia tak habis pikir dengan perilaku Rey yang semakin tak dapat ditebak.

"Ya."

"Adiknya yang membunuhnya?"

"Ya."

"Mana mungkin!"

Rey berhenti. Ia membalikkan badan dan menatap Aira.

"Orang yang memiliki motif terbesar untuk membunuhmu adalah orang yang berada di sekitarmu. Terdengar konyol, memang, tapi itulah adanya."

Aira tak membalas. Rey masih berjalan cepat menuju mobilnya.

"Jika begitu, mengapa sekarang kau tergopoh-gopoh seperti ini?"

Rey tak menjawab. Tingkahnya mengundang rasa penasaran Aira. Rey memang tak pernah tak menjawab pertanyaannya.

"Apakah—" Aira menarik napas sebelum melanjutkan, "—kau akan mengunjungi makam mereka?"

Rey berhenti kembali. Namun, ia tak berbalik. Aira tak berani menyusul Rey. Ia berhenti tepat di belakang Rey.

"Aku mencintainya," aku Rey lirih. "Aku mencintai wanita itu. Sungguh." Hening sejenak. "Kematiannya tragis."

Rey berbalik. Ia memeluk Aira. Tangisnya pecah.

24 September 2016