Kepada SW
Sunyi merambat.
Langkah kaki membawa seorang pria muda keluar dari kantor PDAM. Bekunya Bandung malam menyapa paru-paru. Senyumnya merekah. Dengan map di tangan, ia pergi.
Siapa yang tak bahagia? Saat ia memilih sipil air, ia tak pernah menyangka akan bekerja di bidang yang sama dengan kala ia masih mahasiswa. Memang tak sepenuhnya sama, namun setidaknya ia akan kembali berkutat dengan air. Apalagi, ialah satu-satunya mahasiswa dari jurusannya yang lolos tes PDAM.
Esoknya, kala ia hendak mengurus legalisir dari kampus, pundaknya ditepuk seseorang.
"Maman, Pak Win nyariin kamu, tuh."
Pak Win adalah dosen ter-killer di kampusnya. Tak ada mahasiswa yang tak mengenal Pak Win. Namun, seingatnya, ia tak pernah mengambil mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Win. Kelompok keahlian Pak Win, yaitu struktur, berbeda dengannya yang berupa sipil air.
Ia mengucapkan terima kasih pada kawannya. Setelah selesai dengan urusannya, ia melangkah ke ruangan Pak Win. Ia ketuk pintu itu perlahan.
"Masuk!"
Kala ia melangkah masuk, Pak Win tengah menelepon seseorang. Ia menelan ludah. Telepon besar itu! Keren sekali rasanya jika ia bisa menggunakan barang itu. Sekali saja.
Siapa dia? Jangankan bermimpi untuk memakai barang berharga jutaan, menyekolahkan adik-adiknya saja belum sanggup.
Ia tenggelam dalam pikirnya. Bahkan, ia tersentak kala mendengar sapaan Pak Win.
"Maman?"
"Iya, Pak?"
Pria itu menunggu. Pak Win menatap matanya dalam-dalam. Seketika, ia merasa kecil. Kemampuannya bahkan tak sampai sepersepuluh kemampaun Pak Win. Apalagi, ia berasal jauh dari desa.
"Kamu mendaftar di PDAM, ya?"
"Benar, Pak."
"Lolos?"
Ia mengernyit, namun ia menjawab, "Benar, Pak."
Senyap.
"Man," Pak Win menghela napas, "Jangan."
Ia tersentak. Bahkan, ia tak tahu alasan Pak Win berucap seperti itu.
"Jangan apa, Pak?"
"Jangan lanjut bekerja di sana."
Jelas ia terbelalak. Namun, sebelum sempat bertanya, Pak Win menjelaskan, "Saya tahu kamu sipil air, tapi–yah, kamu lebih cocok menjadi kontraktor."
Pak Win berhenti. Ia tandaskan kopi yang sedari tadi berada di atas meja.
"Bahkan kelompok keahlian saya bukan struktur," akunya.
Pak Win membantah, "Tapi saya tahu kemampuanmu. Kau berhasil mengatur waktu dan menjaga rutinitasmu sehari-hari. Takkan sulit bagimu bekerja sebagai kontraktor." Pak Win menyodorkan kartu namanya. "Bergabunglah dengan kantor saya. Jangan takut akan ketidaktahuanmu akan bidang ini. Saya berjanji akan mengajarimu segalanya."
Tiga hari ia memikirkan ajakan Pak Win. Tentu saja ia berbahagia atas ajakan Pak Win, namun ia ragu pada dirinya sendiri.
Apakah ia akan sanggup? Apakah ajakan Pak Win adalah pilihan terbaik?
Akhirnya, ia mengiyakannya. Ia tinggalkan pekerjaannya di PDAM. Ia mulai kariernya sebagai Maman si Kontraktor.
Tentu saja ia kelimpungan. Siapa yang tak bingung kala bidang yang dijejaki berbeda dengan yang digeluti kala kuliah? Namun, Pak Win menuruti janji. Ia sering mendapat bantuan dari seniornya itu. Bahkan, Pak Win selalu menunda tamu penting hanya untuk mengajarinya tentang hal-hal kecil. Pasang surut, misalnya, atau admiralty.
Lama ia bekerja dengan Pak Win. Hingga akhirnya, beberapa tahun setelah ia sukses menjadi kontraktor hingga konsultan pengawas, Pak Win pergi meninggalkan dunia.
***
To SW,
I never know you. You've even left the world long before I was born. What I want to say is I can't send you enough gratitude, even if we really meet in real life.
Thank you for saving me long before I was born. Thank you for changing my dad's fate. Without you, I'm not even exist.
Sincerelly,
from 20-yo-girl who is dying to meet you
10 Februari 2017