Pages

Puing

Sang pria tak berkutik. Setelah dua abad hidup bergelimang harta, dunianya runtuh.

Ia membeku ketika komputer untuk bermain daring diambil paksa oleh juru sita. Ibunya menjeritkan pilu kala surat hak milik tanah diambil paksa.

Bayangnya berputar ke kala ayahnya masih hidup. Setelah ia mendapatkan uang untuk membeli komputer canggih, jantungnya berderu. Ia tak pernah merasakan sensasi bertarung melawan orang lain. Tiba-tiba, ia ditawarkan senjata-sejata virtual. Seketika, ia bebas membeli beragam baju zirah agar tahan terhadap peluru. Ia juga dipertemukan dengan orang-orang yang sepemikiran dalam hal strategi perang.

Saat itu, ia belum kuliah. Ia baru menamatkan pendidikannya di SMA. Ayahnya sempat menawarkan untuk bekerja sembari mengisi waktu kosong, namun ucapan itu terpantul dari indra pendengaran.

Lambat laun, jarak terbentang. Ia jarang bertegur sapa dengan kedua orangtuanya. Saat ayahnya dilarikan ke rumah sakit, ia hanya mampu duduk menunggu selama satu jam. Ada sesi bermain yang tak bisa ia tinggalkan.

Tiba-tiba, ayah sang pria pergi.

Begitu saja.

Ibunya tak henti mengurai air mata. Sanak saudara merapalkan duka.

Ingatan tentang hari kepergian ayahnya melekat erat di bayang sang pria. Langit bahkan menangis setelah ayahnya terbaring di balik tanah. Jalan raya lengang, bagaikan tangis ibunya yang takkan pernah terdengar oleh ayahnya.

Rupanya, ayahnya meninggalkan banyak hutang. Bahkan, ayahnya tak menceritakan keresahan ini pada ia dan ibunya. Ponselnya, komputer barunya, hingga barang-barang rumah tangga di rumah—

Berbondong-bondong orang datang memaki di depan rumah. Ibunya tak bisa belanja ke pasar tanpa membelah ucapan kasar yang berputar-putar.

Sang pria menyesal. Hiburannya ditarik paksa. Ia ditinggalkan berdua saja dengan ibunya yang tak berdaya. Ia tak punya gelas karena tak melanjutkan kuliah. Tanpa pengalaman kerja, hidupnya akan terus diterpa badai.

Mengapa ayahnya beranjak dari dunia? Mengapa ibunya terus menggemakan isak? Mengapa tak ada yang membantu dirinya?

Untuk pertama kali, ia geram. Ia tak peduli dengan pandangan orang. Ia melangkah dari ibunya. Ia menjauh dari rumahnya yang tak lagi menjadi miliknya. Ia menghilang.

1 Juni 2018