Pages

Cermin

Kepada Mercy

Kala sang pria menatap layar televisi, ia tersedak. Seorang gadis kecil tegak di sana. Tangan sang gadis meremas ujung kemejanya.

Ia tak tahu identitas sang gadis. Ia baru bersitatap dengan sang gadis kala sang gadis hadir di layar kaca.

Sang pria menatap sendu. Sang gadis begitu mencolok baginya karena sang gadis mengingatkan sang pria pada sosoknya dahulu.

Sejak kecil, sang pria tak pernah mencecap ranumnya persahabatan. Ia adalah pendatang di tanah yang menjaga kemurnian adat. Sikapnya mencolok, pakaiannya diolok-olok, dan parasnya bonyok akibat rundungan anak-anak yang bertetangga dengannya.

Sang gadis menggigil karena ia baru saja menghadapi kegagalan. Seandainya sang pria mampu, ia ingin mengirimkan sosoknya berpuluh tahun lalu ke sebelah gadis itu. Sang pria tahu mereka butuh kawan.

Seandainya. Seandainya.

Sang pria mematikan televisi. Ia kembali meneguk kopinya yang tak panas lagi.

12 Oktober 2018