Tak banyak yang tahu, bahwa di sudut sebuah kota fiktif yang nampak besar, terdapat sebuah jalan sempit yang masuk ke perumahan warga. Separuh hitam, separuh putih. Abu-abu.
Di jalan itu, seorang pengemis saja akan menjauh. Terlalu dingin. Terlalu beku. Terlalu tak bersahabat. Terlalu kotor. Bahkan, penghuni perumahan sering memutar jalan. Kilah mereka, jalan sebusuk itu tak baik untuk kesehatan.
Namun, ada seorang anak yang melewatinya. Awalnya, ia menembus jalan itu karena ia terburu-buru. Ia terlambat bangun! Jalan sempit itu adalah jalan pintas ke sekolahnya. Walaupun enggan, ia terpaksa melewatinya.
Satu. Dua. Tiga!
Langkah seribu. Peluh membasahi wajah. Hidung yang ditutup.
Ketika ia mencapai ujung lain jalan itu, ia mempercepat langkahnya. Seketika, ingatannya akan jalan itu hanyut ditelan deras arus waktu.
Singkat cerita, anak itu melewati salah satu ujung jalan itu kembali. Kala itu, mentari baru saja turun. Badannya penuh peluh.
Ia teringat pengalamannya sebelumnya. Rupanya, jalan itu tak seburuk yang orangtuanya kisahkan. Walaupun dingin, kotor, dan gelap, aksesnya bagus. Bayangkan, orang-orang bisa memangkas jarak sekitar lima ratus meter! Bukankah itu keuntungan yang bagus?
Akhirnya, si anak bercerita pada orangtuanya. Tentu saja orangtua anak itu panik. Ia tak diizinkan berangkat dan pulang seorang diri. Bahkan orangtua anak itu melarangnya untuk bermain di rumah kawannya tanpa seizin orangtuanya.
Anak itu terpuruk. Ia hendak menyulam jalan pintas menjadi ketenangannya, namun ia menggali jurang antara angan dan kebebasannya.
10 Juli 2019