Ia kembali.
Tanah berkilau keemasan kala telapak kakinya menjejak bumi. Semburat hijau berkilau di langit kelam. Gemintang redup menari di horizon.
Ia tersenyum.
Mega menolak hadir di malam penuh semarak. Rembulan berbagi panggung dengan aurora.
Segalanya sempurna.
Langkahnya menyilangkan takdir dengan sungai kecil nan jernih. Ia menunduk. Ikan kecil berwarna jingga kemerahan sesekali menyembul di permukaan air.
Pelan, ia menyeberang.
Kali itu, sosoknya dikerumuni pepohonan dengan daun berwarna merah muda. Sesekali, angin menyapa. Dedaunan gugur dan tersangkut di rambut.
Di antara kerumunan pohon berdaun muda, sebuah pohon tinggi dan kokoh menarik hatinya. Buahnya lebat. Ia tak pernah melihat pohon dengan buah berwarna ungu muda, namun ia tetap mencecap buah itu.
Ranum.
Ia tak dapat memanjat pohon, sehingga lidahnya harus puas dengan buah yang berjatuhan. Kala buah terakhir ditelan, perutnya penuh.
Ia duduk di tanah dan bersandar pada pohon. Matanya terpejam. Segalanya indah. Segalanya damai. Ia terlelap.
Seketika, ia terjaga. Mimpinya terhempas begitu saja. Yang ia saksikan membuatnya menggigil.
Ayahnya masuk ke kamarnya. Ia melirik tangan sang ayah. Pecahan botol arak kosong menyambut kekalutannya.
Ia memejamkan mata kala pecahan botol itu dihantamkan pada kepalanya. Di bayangannya, ia memimpikan buah asing berwarna ungu yang ranum.
Semoga ia dapat kembali merasuk ke alam mimpi.
13 Mei 2019