Lalu, ia menemukannya.
.
Ibunya pernah berkata padanya bahwa ada hitam di atas putih. Bahkan, di balik sosok yang paling berkilau sekalipun, pasti akan ada noda walaupun hanya setitik.
Lalu, orang itu datang. Sebut saja orang itu sebagai kembang terindah. Parasnya, tuturnya, bahasa tubuhnya. Seluruh pria mabuk kepayang.
Ia pun begitu. Namun, ia lebih beruntung. Ayahnya adalah kawan baik sang gadis. Bukan karena rekan kerja atau apapun, bukan! Karena mereka bertetangga. Toh, siapa yang mau melewatkan menantu secantik itu?
Sejak awal, ibunyalah yang paling diam ketika gadis itu tiba. Padahal, ibu cerewet sekali. Saat ia lupa menyalakan tungku, ibunya mengomel. Saat ia tak sengaja mencampurkan pakaian putih dengan yang berwarna lain, ibu mengomel juga. Namun, di hadapan sang gadis, ibunya malah tak berucap barang satu kata.
Diam berarti setuju, bukan?
Diam-diam, ia kirimkan surat dan bunga ke jendela kamar sang gadis. Diam-diam, ia mencoba masuk ke kehidupan sang gadis. Ketika sang gadis mencari tumpangan ke kampus, ia memajukan motornya pelan-pelan hingga mencapai sang gadis. Diam-diam, ia mengikutinya ke warung.
Ibunya hanya menatapnya setiap ia pulang dari mengejar sang gadis. Sorot matanya hampa. Tak lama kemudian, ibunya akan mengomel, mengatainya tak peka. Selanjutnya, ia akan membantu ibunya mencuci piring atau mengepel rumah.
Walaupun ibunya selalu mengomel, beliau tak pernah marah. Ketika ia terjatuh dari pohon dulu, beliau sigap menggendongnya ke rumah dan mengobati lukanya. Ibunya selalu memasakkan cumi-cumi favoritnya jika ia berhasil juara satu. Ibunya yang menyisipkan nasihat di balik nasi goreng atau ulekan sambal.
Lalu, hari itu tiba.
Sang gadis pulang dengan perut buncit. Herannya, lengan dan pipinya tak ikut membesar. Tentu saja kelihatan! Ia masih langsing sekali. Dari mana asal perut buncit itu?
Satu kampung mulai menghakiminya. Mereka berseru bahwa dialah pelakunya. Tentu saja dia! Tak ada pria lain yang mendekatinya. Setidaknya, tak ada yang gadis itu tanggapi seperti ia menanggapinya.
Saat ia dengan keras menolak dan berkilah, sang gadis menyentuh pundaknya. Ia terkejut. Sinar di wajah sang gadis hilang.
Rupanya, sang gadis telah dijodohkan dengan teman ayahnya. Karena tak bisa menahan diri, ia yang jauh lebih tua menyeret sang gadis dan "bersenang-senang". Mendengar hal itu, bukannya geram, ayahnya malah senang. Sang gadis takkan bisa kabur dari perjodohan itu lagi.
Sang gadis menangis. Seluruh dukanya tumpah ruah. Ia tak bisa berkata apapun selain memeluk sang gadis.
Esoknya, sang gadis tak terlihat di matanya lagi. Rumahnya pun tertutup. Mungkin ia sudah memutuskan melacurkan dirinya pada nasib kelamnya.
3 Agustus 2016