sudah kucari engkau
di tempat candu, di bibir dermaga, di relung jiwa
lalu aku
pulang dengan hampa
di tempat candu, di bibir dermaga, di relung jiwa
lalu aku
pulang dengan hampa
.
Elf kecil berlarian di sisi jalan. Berbeda dengan elf yang hampir mirip bebek-bebek bergerombol, ia melangkah sendiri saja di jalan itu. Kepalanya ditundukkan. Topi kerucut hitamnya juga lemas, sama seperti yang mengenakannya.
Senja cukup buram saat itu. Ia bahkan sulit membedakan antara tanah dan genangan darah ogre. Berkali-kali sepatu botnya basah akibat salah menjejak, dan berkali-kali pula ia melayangkan mantera agar sepatunya tetap bersih.
Ia mendongak. Profil wajahnya tampak jelas saat itu. Rambutnya pirang. Pipinya kemerahan. Kulitnya sepucat salju. Matanya sebiru langit cerah. Namun, jangan kauharap air mukanya secerah biru matanya. Bahkan, kau bisa berkata bahwa ialah makhluk paling menyedihkan saat itu. Matanya sembap. Pakaiannya robek di sana-sini.
Ia tak peduli dengan ributnya sualra elf yang sudah menjauh darinya. Atau bangkai ogre yang terserak di sisi jalan. Ia bahkan tak sadar bahwa ia tak sendirian di sana.
Semenjak kematian ayahnya, ia menjalani hidup yang tak biasa. Ia berjalan ke sana-kemari untuk mencari makan. Kadang, ia hanya makan daun-daun. Kadang, ia melacur nasib pada pria yang haus ketika melihat lekuk tubuhnya. Apapun ia lakukan agar bisa menyambung hidup. Apapun!
Lalu, pria itu tiba. Berbeda dengan pria yang melemparkan koin setelah puas lalu pergi, pria itu tak beranjak. Pria itu tetap berada di sisinya. Pria itu menemani harinya. Pria itu memapahnya untuk keluar dari jurang kelam.
Lalu, ia dikejutkan dengan sebuah berita. Pria itu akan menikah. Bahkan, yang ia nikahi hanyalah elf kecil! Tentu saja elf itu tak sebanding dengannya yang rupawan bak peri. Ia tak terima dengan kenyataan itu. Ia tak suka!
Ia tiba di hari pernikahan itu. Alih-alih nanar menatap sang pria, ia malah dikejutkan dengan betapa sederhananya perayaan itu. Tak ada debu sihir warna-warni. Pun rangkaian bunga atau alunan musik merdu. Namun, perayaannya memang sakral. Pasangan itu tampak serasi berdampingan. Tak tampak layaknya pangeran dan putri, tapi sepasang insan yang saling melengkapi.
Ia terluka. Ia tak mengikuti acara itu hingga ke ujungnya. Langkahnya diseret keluar. Bersamaan dengan itu, bencana terjadi. Dari balik punggungnya, muncul monster ganas. Perayaan itu diobrak-abrik oleh monster itu. Seluruh orang di sana mati mengenaskan. Bahkan, karena paham tuannya terlalu sedih, ia mengamuk dan mulai membunuh ogre tak bersalah di jalan. Elf-elf kecil tak luput dari targetnya.
Kini, setelah monster itu kembali bersatu dengan tubuhnya, ia merasa hampa. Hatinya seakan memanggil kembali pria itu, namun sia-sia saja. Pria itu tak ada di manapun, bahkan di relung hatinya sekalipun. Pria itu menguap seiring dengan badannya yang membusuk akibat mati mengenaskan.
Ia kembali menunduk. Ia melanjutkan langkahnya.
18 Agustus 2016