Pages

Detik Itu Juga

Pria itu membenamkan sebelah tangannya ke salju. Seketika, buku-buku jarinya memutih.

Robot kumbang berputar di sekitarnya. Ribuan protes sudah dilayangkan oleh robot itu, namun tak ada kata yang diproses otaknya. Pikirannya malah melayang di satu nama.

Setelah beberapa saat, ia mengangkat tangannya. Kemudian, ia melangkah masuk ke tenda. Matanya menumbuk gadis yang tengah terlelap di balik selimut termal.

Dalam tidurnya, sang gadis meracau. Bibirnya berulang kali mengucapkan sebuah nama. Yang jelas, nama itu bukan nama pria itu. Ia terus bergerak resah.

Bukannya membalikkan badan dan bergabung dengan teman-temannya, ia memilih untuk mendekati gadis itu. Ia menyingkirkan kain di dahi sang gadis dan menggantikannya dengan jarinya yang beku.

Waktu berhenti. Mendadak, sang gadis diam. Ia tenang dalam mimpinya.

Pria itu bersorak, namun ia meringis. Pilu menyerang kala otaknya mengulang racauan sang gadis. Sayangnya, ia takkan sanggup melihat sang gadis menderita. Cukup ia saja yang menahan pedih. Mengenggam cinta sebesar itu tanpa balasan tak semudah teori.

Senyum tipis merekah di bibir pria itu. Ia ingin menghentikan waktu untuk sekadar berdua dengan sang wanita, sekalipun ia harus mengorbankan nyawanya.

2 Oktober 2016