Pages

Guruh

kau tak bisa
diterjemahkan
dengan bahasa hujan

kau tak terjamah
pengertian

***

Matahari tak timbul. Guruh mengamuk.

Daun merapatkan payungnya. Karena terlalu larut pada pekerjaannya sebelum berangkat, ia tak menyangka badai tengah mengobrak-abrik langit. Bahkan, ia sudah membuka payung dan pintu. Baru satu detik, ia mengurungkan niatnya untuk melangkah.

Daun kembali ke kamarnya. Ia membenamkan diri dalam selimut.

Ia tak membenci badai. Ia hanya tak nyaman dengan suara bising dan udara dingin yang ditimbulkan badai. Dua hal itu membawanya pada keping ingatan terburuk. Ya, ia mengingat angin topan yang terjadi kala ia masih remaja.

Akhirnya, ia memutuskan untuk terlelap. Jika ia tak sadarkan diri, sensor di kulit dan telinganya padam untuk sementara waktu. Bukankah begitu?

Apa dikata, hujan mendera kala ia terjaga. Memang tak seramai badai, namun ia tetap terganggu. Dengan kesal, ia memasang earphone. Ia menyeret langkah.

Kala melalui rak buku, matanya menatap buku hariannya. Ia mengambil dan membawanya ke dapur. Setelah menyeduh teh kantung, ia duduk di sofa sembari membaca buku itu.

Keputusannya salah, karena, tepat setelah ia membaca kata pertama, air matanya menitik.

24 Oktober 2016