Sebenarnya, ini adalah kampanye di Wattpad saat Hari Buku Sedunia, namun saya baru menulisnya tanggal 9 Desember 2016
***
Dear my future husband,
Tiba-tiba, tanganku gatal. Di tengah pening yang terus menyerang, aku ingin menulis untukmu. Mungkin tulisan ini cheesy dan bukan-Meiya-sekali, tapi hatiku memaksa tanganku bergerak.
Jadi, tak apa, ya?
Pertama, aku ingin mengingatkanmu: you can give me award as the most stubborn girl in the world. Kau pasti akan sulit mendekatiku. Namun, jangan takut. Aku menjadi sekeras itu karena aku takut pada takdir. Aku tak ingin menyakitimu dengan buruknya perilakuku setelah bahtera jauh berlayar. Jika kau yakin, bersujudlah. Minta pada-Nya. Yang terpenting, jangan pernah berlaku seperti bad boy. Sungguh, dari berjuta tipe pria di dunia, tipe inilah yang paling kuhindari.
Being by my side doesn’t guarantee you with happily-ever-after ending. In fact, I am logical. Mungkin kau takkan suka melihatku penuh perhitungan kala membeli perkakas dapur. Mungkin kau akan jengkel kala aku gagal menangkap rayuanmu. Mungkin kau kesal karena aku masih ingin bekerja setelah menikah. If something bothers you, don’t hesitate to talk about it to me.
Karakterku bukan sesuatu yang terbentuk begitu saja. Setelah bertahun-tahun diterpa ngilu dan perih, tentu saja tak semua bagian di diriku baik di matamu. Suatu saat, kau pasti akan bertemu dengan aku yang lain. Aku yang penakut, aku yang khawatir, aku yang tersedu-sedu. Kuharap, kala kau bertemu dengan sisiku itu, kau mau merengkuhku. Tak usah kaurangkai kata untuk meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Cukup kaupastikan dirimu ada di tiap kehancuranku. Lead me to solutions. Don’t pampers me with dreams. Because, when reality kicks in, I’ll be more dreadful than before.
Aku tak tahu kau siapa. Pun aku tak mampu menebak kelebihan dan kekuranganmu. Yang jelas, aku berharap ada hobi kita yang sama. Aneh, tidak? Aku berharap seperti itu karena pernikahan adalah perihal menjadi teman hidup. Setidaknya, jika hobi kita sama, kita tak perlu mengarungi samudera hanya untuk berbahagia. Cukup hari Sabtu, secangkir kopi untukmu (dan segelas susu untukku—oh, oke, I’m a milk person, not coffee or tea), dan kita bisa tergelak lepas. Entah tak henti memperdebatkan karya Agatha Christie, diksi yang dipilih Eka Kurniawan, membuat atau mencari intellectual meme di 9GAG, berebut menjadi warna biru di Blokus, bertanding speedcubing, atau bahkan sekadar berbincang tentang sumber energi baru. Atau, kau bisa mengenalkan kesukaanmu padaku. Aku tak bisa berjanji akan menyukai yang kausuka, tapi aku berjanji akan mendengarkan penjelasanmu. Percayalah, kilat matamu kala kau tenggelam dalam kesukaanmu adalah favoritku.
Aku masih perlu belajar. Aku belum lancar memasak. Instingku belum cukup baik kala tengah menggiling bawang merah dan bawang putih. Aku lebih suka membaca dari berbincang-bincang. Kuharap, kau mau membantuku berubah. Jangan manjakan aku hanya karena aku tak bisa. We will be a team for the rest of our life. I want us to cooperate. Tapi, kumohon kau cukup peka, ya. Orang sepertiku sangat takut kala hendak memohon bantuan (for the reason, I’ll tell you once we marry). Jika aku menolak bantuanmu dengan segan, kau boleh membantuku tanpa seizinku (untuk hal-hal tertentu saja, ya).
Jangan takut untuk menceritakan relung rahasia terdalammu. Aku tak seperti boneka porselen yang harus dimanjakan sekhusus itu. Pun, aku tak menganut budaya patriarki atau maskulinitas. Kau boleh bersandar padaku. Aku mempersilakanmu untuk menumpahkan berjuta sedu-sedan padaku. Ekspresikan ketakutan-ketakutanmu. Kisahkan cerita-cerita kelammu. Aku akan berada di sana, merengkuhmu. Aku menikah dengan keseluruhanmu, bukan hanya kebanggaan dan wajah-wajah yang kautunjukkan pada khalayak.
Nantinya, kita akan melalui beragam kesulitan. Mulai dari masalah restu, rencana pernikahan, tuntutan untuk memiliki anak, dan sebagainya. Our teamwork will be tested. Whatever the future holds, I believe we can go through all of this.
Bolehkah aku minta sesuatu darimu? Aku mohon kau tak berdiri di hadapanku. Aku sudah berkata bahwa aku sulit diatur, bukan? Berjalanlah di sisiku. Pegang tanganku, rengkuh tubuhku. Tantang berjuta badai untuk menghadapi kita. Aku yakin kita takkan kalah.
Aku takkan mencintaimu karena emas maupun pangkatmu. Aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. Aku mencintaimu karena peluhmu bercucuran kala menjalani kesukaanmu. Aku mencintaimu karena obrolan-obrolan bodoh yang nantinya akan kita lakukan.
Promise me, you’ll love me a lot. You’ll tell me every day by your gesture, your smile, your small surprise. Remind me you really mean it. Let’s sail through the storm in high seas. Don’t forget to take break and talk about silly things.
Untuk sekarang, kita berjuang masing-masing dahulu, ya? Masih banyak yang aku ingin pelajari sebelum berjumpa denganmu. Atau apakah kita sudah bertemu? Yang jelas, kuharap kita telah sama-sama siap ketika menyadari bahwa kita adalah jodoh.
Until then, please take care.
With love,
Meiya
9 Desember 2016