***
Hening. Aku tengah fokus pada tulisan di laptop-ku. Sesekali, aku meneguk teh madu favoritku.
Aku menoleh ke jendela. Langit megah dalam balutan jubah jingga. Awan berarak di sebagian sisi langit.
Sore itu cerah. Sayang, hatiku tengah berduka.
Aku baru saja kehilangan seseorang. Ia adalah segalanya bagiku. Rasanya, seluruh tarikan napasku dapat aku dedikasikan hanya untuknya. Ia lembut dan pengertian. Kepekaannya bahkan mengalahkan larutan fenolftalein jika bertemu basa. Hadirnya bagaikan ombak yang terus menyapa pesisir; natural dan menyenangkan.
Angin sepoi-sepoi menyadarkanku. Aku kembali tenggelam dalam pekerjaanku.
Aku baru mengenalnya, namun tak sulit untuk menyadari bahwa kepribadiannya memukau. Ia pandai menguntai aksara. Ia bersemangat mengutak-atik rangkaian dan robot. Ia tak canggung membicarakan nanoteknologi. Filsafat bukanlah hal sulit bgainya. Rasanya, aku seperti berbicara dengan ensiklopedia berjalan.
Namun, ia memilih orang lain. Kawanku, sahabat terbaikku, adalah pribadi yang ia tetapkan sebagai pujaan hati.
Aku kalah total. Kawanku itu sangat cantik. Tuturnya lembut, kemauannya keras, dan pribadinya hangat. Mana mungkin upik abu menang melawan pesona seorang putri?
Kututup rapat hatiku. Setelah berminggu-minggu berjuang dalam keputusasaan, aku melepasnya. Aku tak ingin memperumit keadaan. Dunia sudah kompleks. Aku ingin tetap hidup dalam kesederhanaan.
Sore itu, semesta menyambut keputusanku. Mereka mengirimkan kilau senja yang memukau. Seolah, kehilangan bagian hatiku adalah perayaan termewah. Seolah, dengan kehilangan, aku dianugerahi kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi.
Semoga.
21 Desember 2016