Pages

Pelatuk

Terinspirasi dari cerita milik Tomi

***

Peluru itu menembus tubuh satu-satunya orang yang berdiri di hadapannya. Ia, yang tengah memegang pistol, tak menampakkan ekspresi apapun.

"Terima kasih."

***

Seorang gadis duduk diam di sudut perpustakaan. Tubuhnya dipeluk erat oleh jaket tebal. Harapnya, kulitnya tak kalah dengan dinginnya hari akibat hujan yang mengguyurnya. Namun, ia salah.

Untuk yang kesekian kalinya, ia membuka termos kecil yang selalu ia bawa ke manapun. Tak lupa juga dengan gelas plastik yang selalu setia diam di tasnya. Tak lama kemudian, ia menyeduh teh herbal favoritnya.

"Seperti di rumah sendiri saja, ya?"

Gadis itu mendongak. Namun, ia buru-buru mengangkat sebelah tangannya sebelum memperhatikan orang yang menyapanya. Setelah ia yakin keheningan telah kembali menyergapnya, ia menatap orang di hadapannya.

Pria itu kurus tinggi. Ia mirip nyiur yang tengah berjalan. Tubuhnya sedikit bungkuk, kelopak matanya hitam, namun sinar matanya secerah mentari siang. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Di tangannya, buku Fluid Mechanics milik perpustakaan terselip di antara jari-jarinya yang tak kalah kurus dibandingkan tubuhnya.

Seakan tak peduli dengan tatapan penuh tanya dari sang gadis, sang pria menarik kursi di hadapan sang gadis. Ia langsung membuka buku tebal itu dan membacanya dengan tenang. Perlahan, ia menghilang ke dunianya sendiri,

Sang gadis tak mengucapkan apapun. Ia memilih untuk bungkam. Matanya kembali diarahkan ke secangkir teh panas mengepul di tangannya. Namun, jangan kaukira isi kepalanya kosong. Otaknya bahkan tak kalah sibuk dibandingkan kota metropolitan.

Setelah hari itu, entah bagaimana, kedua insan itu berkawan baik. Mereka tak banyak berbincang, tipe khas para pecinta buku, namun mereka seolah menolak untuk dipisahkan. Mereka selalu duduk berhadapan, dengan buku masing-masing, tanpa suara. Jika orang asing tak sengaja melirik mereka, pasti ia akan menganggap mereka adalah kawan lama. Padahal, perbincangan mereka tak lebih dari melempar tanya tentang jam atau cuaca hari itu.

Suatu saat, sang pria memutuskan untuk menebas jarak. Ia mengajak sang gadis untuk makan di kantin perpustakaan. Sederhana, bukan? Namun, tanpa sadar, hal itu akan menjadi penentu hubungan mereka ke depannya.

Sejak saat itu, mereka malah semakin akrab. Hubungan mereka tak sekadar saling diam dan memperhatikan. Perbincangan berkembang ke makanan favorit, film yang sedang diputar, hingga akhirnya mereka bertukar alamat.

Suatu hari, sang gadis mengundang sang pria ke rumahnya. Yang mengherankannya, ia diminta untuk tiba dengan sarung tangan karet. Dengan penuh debaran dan kecemasan, sang pria mengikuti keinginan sang gadis. Ia tak lupa membawa kue bolu favorit sang gadis. Harapnya, sang wanita tak dilanda apapun.

Ketika sang pria tiba di rumah sang wanita, ia terkejut. Sang gadis menyambutnya dengan pistol di tangan. Namun, ia berusaha untuk berpikir positif. Pikiran negatif segera ia enyahkan dari bayangannya.

Sang gadis mengajaknya duduk di sebuah ruangan serbaputih. Ia duduk di sofa empuk yang hanya cukup diduduki oleh satu orang. Dengan canggung, sang pria duduk di hadapannya.

Yang mengherankannya, sang gadis malah meletakkan pistol di pangkuan pria itu. Tentu saja pria itu terkejut luar biasa.

"Aku terserang kanker," ucap sang gadis perlahan.

Mendadak, sang pria membeku.

"Aku tak tahan," ujar sang gadis. Air matanya menitik. "Pedih. perih. Ngilu. Aku takut. Ayahku berjuang untuk menyembuhkanku. Pundi-pundi rupiah mengalir dari dompetnya, padahal segalanya sia-sia."

Hening. Sang pria tak menemukan jawaban. Matanya nanar menusuk mata sang wanita.

Seolah tak terusik dengan tatapan sang pria, sang gadis melanjutkan, "Adikku masih sekolah. Ibuku perlu modal untuk berjualan. Aku hanya memberatkan semua orang."

Seandainya sang pria sudah bekerja. Seandainya sang pria memiliki keluarga superkaya. Seandainya sang pria menang lotere puluhan milyar.

"Kau mengerti maksudku, bukan?"

Sang pria bahkan tak berani bertanya tentang pistol itu. Dari mana sang gadis mendapatkannya? Mengapa harus ia?

Sang gadis tersenyum tipis. Ia berujar, "Aku tak ingin kau khawatir. Maka dari itu, aku ingin menghilang di hadapanmu. Tak mungkin aku meminta hal ini dari keluargaku, bukan? Mereka akan depresi."

Sang pria menelan ludah.

"Buatlah seolah-olah aku bunuh diri." Sang gadis merogoh saku jaket. Ia menyerahkan kunci pada sang pria. "Bawa kembali kue yang kaubawa. Keluarlah lewat pintu belakang. Aku gandakan kunci ini untukmu. Tenang, aku sudah membayar tukang duplikatnya agar tutup mulut."

Apakah sang pria punya pilihan lain?

Sang pria menghela napas. Nyeri merayapi tubuhnya. Namun, tatapnya kosong. Setelah menghirup napas dalam, ia mengangkat pistol.

Dor.


22 Desember 2016