Pages

Obsesi

Bahkan, di tiap langkah yang kuambil, aku dipaksa mundur.


***

"For God's sake!"

Fira batuk-batuk. Ilma bahkan berhenti memasukkan bakso ke mulutnya. Semua mata memandang Sinta. Tatap-tatap itu nyalang dan penuh tanya.

Pekikan Fira membahana, "Kau membiarkan ia mengambil Banu?"

Sinta meringis. Ia pelan menjawab, "Lalu aku harus apa? Lagipula, Banu benar-benar jatuh cinta padanya."

Ilma menyerang, "Kemarin Rendra. Bulan lalu, Pandu. Kali ini, Banu? Sebenarnya, siapa yang Devi mau?"

Sinta tak ingin berdebat, jadi ia hanya menggelengkan kepala.

Entah sejak kapan, Devi terobsesi pada Sinta. Kemarin, ia mengambil kotak pensil Sinta dan mengaku itu miliknya. Padahal, kotak pensil itu sangat unik karena Sinta membuatnya sendiri. Inisial 'S' juga terlihat di sisi kotak pensil itu.

"Mungkin ia iri padamu?" usul Fira.

Sinta menjawab, "Iri pada apa? Pencapaianku? Pencapaian yang mana?"

Fira dan Ilma bungkam. Sinta memang bukan mahasiswa berprestasi, namun pengetahuannya luas. Tak ada penghargaan untuk 'pengetahuan luas', bukan? Bahkan, Sinta tak menawan. Wajahnya tak bisa disandingkan dengan Raisa sang penyanyi.

"We are going back to square one. Why?" keluh Ilma.

Sinta tiba-tiba berujar, "Apa jangan-jangan—"

Tiga sahabat itu saling memandang. Ketiganya merinding.