Kepada Blu
Netranya membulat. Kali terakhir ia memegang pisau, dapurnya terbakar. Ia tak pernah menyentuh benda tajam setelah kejadian itu.
Kali itu, ia terpaksa. Penyamun mengerubungi rumahnya bagaikan lebah. Ia terpojok.
Ada sebuah belati peninggalan kakeknya yang ia letakkan di dapur serampangan. Kala jendela rumahnya pecah, secara tak sengaja, nalarnya menyeret langkahnya ke dapur. Jemarinya menyentuh belati usang itu.
Ia bahkan tak ingat apa yang ia lakukan dengan belati itu. Tahu-tahu, genggamannya lepas. Denting belati saat menumbuk lantai membangkitkan kesadaran.
Ia memekik. Mayat bergelimpangan. Beberapa kepala terpisah dari badan. Tangan, jemari, hingga kaki berserakan di dalam rumah.
Di tengah kalut, ia berlari. Ia meninggalkan ponselnya di kamar, namun ponsel tersebut lenyap. Rupanya, salah satu penyamun telah memasukkannya ke karung besar hasil rampasan.
Ia mengetikkan nomor polisi, namun jarinya membeku. Ia tak bisa menjelaskan pada polisi tentang kejadian itu. Satu manusia biasa takkan mungkin melawan sekelompok penyamun dengan sebuah belati. Terlalu janggal.
Akhirnya, ia membuka aplikasi jelajah daring. Di sana, ia mengetikkan,
"cara membersihkan tempat kejadian perkara"
30 Maret 2019