Pages

Jingga

Kepada jingga yang merekah kala senja melintas,

Kautahu, di Instagram, sesungguhnya aku tengah mencatat kisah-kisah antara orang-orang yang paling berpengaruh selama aku melanjutkan studi di perguruan tinggi. Aku tahu benang nasib kita tak tersambung lagi, namun aku tahu diri. Kau pantas disandingkan dengan tokoh-tokoh yang kutuliskan. Tadinya, aku hendak menorehkan kisahmu di sana, namun kau takkan bisa membacanya. Biarkan aku menuliskannya di sini.

Aku akan memulainya dengan pertemuan pertama kita. Oh, kau pasti menahan senyum. Ya, memang bukan aku yang mengingat pertemuan pertama kita, tapi bukan berarti aku tak mengingat momennya.

Katamu, kita bertemu kala kita sama-sama menghadiri acara besar. Katamu, kita berjalan ke musala bersama saat zuhur mengetuk. Sungguh, aku ingat momen itu, namun nama dan wajahmu tergelincir dari ingatanku.

Pertemuan kedua kita dipastikan terjadi di tempat yang sama-sama kita anggap rumah (yang, sayangnya, aku tak benar-benar ingat). Mungkin kau tengah duduk di pojok dan aku baru masuk dan membuka sepatu. Yang jelas, namamu membekas di ingatanku kala pertemuan itu, walaupun lakumu tak membekas di pikirku.

Aku hanya mengenalmu selama setahun, tapi kau telah menopangku terlalu banyak.

Aku ingat tahun itu. Aku tiga kali tergelincir di jalan turun sebelah warung masakan Padang. Dua bulan aku pulang-pergi dengan kaki pincang. Selama itu, kau membantuku. Arah kepulangan kita yang sama memang tak disengaja, namun baru pertama kali ada orang yang cukup keras kepala untuk tetap menjagaku kala raga lantang menyerukan penolakan.

Kau layaknya keluarga yang tak pernah kupunya.

Kau ingat kala satu deadline menghantam? Aku masih ingat detik itu. Aku berdiri di depan pintu dan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Sepasang muda-mudi bercumbu, tiga orang malah tergelak lepas, dan—

Mataku merah. Aku sendirian.

Di tengah kekalutanku, kau menghubungiku. Kau menemaniku begadang sembari membantu berhitung. Percayalah, aku benar-benar berhutang budi padamu.

Momen ketiga terjadi kala aku tak bisa pulang. Akhirnya, aku memilih untuk beralih. Kau ingat reaksimu? Kau menemaniku hingga bulan merangkak hingga puncak horizon kelam. Kau bahkan memberiku perspektif baru akan masalah yang terjadi bertahun-tahun sebelum kita bertemu tanpa kausadari.

Hal terakhir yang berkesan untukku adalah kala aku terjebak di sudut kota lain. Sendirian. Kala kemacetan memudar, kau hadir. Kau membantuku kembali kala bibirku bergetar karena memori dan kondisi buruk menghadang.

Berkali-kali. Berkali-kali. Aku bahkan belum menuliskan kala kau mau memperlambat langkah dan membawakan tasku. Isi perutku hampir keluar, namun topanganmu memberikan embusan napas baru.

Setelah satu tahun penuh aksi, di titik ini, kita tak lagi saling mengenal.

Aku—aku tak tahu. Tak mengerti. Tak terima. Aku telah bergerak dan memanjat jauh ke tebing tanpa ujung, sedangkan kakimu tak mampu melangkah karena sulur menahanmu untuk melaju.

Tahu mengapa aku kesal saat itu? Karena kau membantuku melompati jurang, sedangkan aku tak mampu menyeretmu ke arah manapun yang kau tuju.

Hari aku menuliskan ini, 26 April 2019, adalah hari terakhir kuliah "resmi" untuk mahasiswa ITB 2015. Semua orang ramai-ramai menuliskan kisah yang hampir usai. Detik itu, aku baru ingat bahwa aku belum menutup kisah tentangmu. Biarlah keburukanmu terkubur di antara memori-memori lain yang akan kubentuk, namun aku ingin mengabadikan kebaikanmu di sini.

Pesanku padamu, kau bisa maju. Aku percaya itu.

Semoga kebaikan menyertai langkahmu ke depan. Selamat melanjutkan hidup di jalan manapun yang kaupilih.

Pada detik ini, aku melepaskanmu.

26 April 2019