Pages

2012-12-26

"Remember the time you thought you never could survive? You did it, and you can do it again."
— Unknown

Jika kaupikir aku tak pernah jatuh, kau salah.

Malam ini, aku mengulang memori dari kejadian yang terjadi empat tahun yang lalu. Itu adalah kali kedua keluargaku direnggut paksa oleh nasib. Kupikir, aku takkan bisa bertahan saat itu. Nyatanya, aku masih ada di bumi, bukan?

***

Kamis, 26 Desember 2012

Malam itu suhu tidak bersahabat. Angin dingin dan jalan yang agak becek mengiringi langkahku yang sebenarnya sedang malas. Tapi, entah mengapa, sepertinya ada sesuatu yang memaksaku untuk maju, untuk terus melangkah menuju tempat les yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahku.

Aku mempercepat langkahku dan mulai mengutuki diri sendiri. Jika bukan karena perasaan yang tidak enak dan formulir pembuatan ijazah yang belum aku serahkan, mungkin aku tidak perlu merepotkan diri sendiri dengan menembus tameng tebal yang membuatku menggigil.

Yah, akhirnya aku tiba di tempat itu. Di sana ada Bu Husni, duduk di kursi dekat pintu masuk. Beliau segera tersenyum padaku seraya berkata, "Mana formulirnya?"

Aku tak langsung menyahut. Aku menyalaminya dan segera mengambil formulir pembuatan ijazah yang aku letakkan di saku jaketku.

"Ini, Bu. Tapi aneh, saya pikir saya sudah memasukkan pas foto ke dalamnya," kataku.

"Memang sudah," jawab Bu Husni.

Aku kebingungan, dan di tengah perasaan itu Bu Husni mengambil benda kecil yang terbungkus plastik dan menyodorkannya kepadaku.

"Ada di dekat mesjid Al-Haqq. Mungkin terjatuh saat Canya membawanya ke sini. Untung saja terbungkus plastik, kalau tidak pasti sudah rusak dan tintanya luntur," katanya.

Aku melihat bungkus plastiknya. Bagian luarnya basah dan kumal, tapi bagian dalamnya masih aman. Isinya pas fotoku yang tadinya hendak aku serahkan untuk pembuatan ijazah.

"Ah, pasti Bu," jawabku.

Percakapan terhenti. Aku masuk ke dalam untuk mengurangi rasa dingin yang dari tadi menyerang. Sejenak aku melirik jam dinding. Sebenarnya aku telat satu menit, tapi tak masalah. Toh sejauh mata memandang Mr. Irfan belum terlihat.

Aku duduk dan kemudian Ferico (yang awalnya aku kira kakak kelasku -,- ternyata dia seumuran denganku) datang. Dia juga menunggu di semacam ruang tunggu di tempat lesku.

Sepuluh menit kemudian Mr. Irfan datang dan kami langsung diajak naik ke atas, ke kelas untuk level TOEFL.

Kami diberi selembar kertas yang berisi tentang tradisi aneh tahun baru di beberapa negara, dan Mr meninggalkan kami untuk shalat Maghrib dahulu.

Tak perlu aku deskripsikan menit-menit ketika aku dan Ferico ditinggal berdua, karena kami (atau lebih tepatnya aku) banyak mencari arti dari tiap kata yang tertera di sana. Maklum, vocabku tidak termasuk yang bagus. Dan tak lama kemudian Mr. masuk lagi.

Saat kami hendak membahas teks di tangan, Teh Ica masuk.

"Oh my God, at last you come into TOEFL class! I miss you so much sist!" kataku.

Ya, orang yang datang adalah Teh Ica, temanku di level Advance dulu. Karena beberapa hal ia ujian lebih telat daripadaku. Walaupun aku sering nge-bully dia, tapi aku sayang kakak kelasku yang satu ini. Aku merasa cocok dengannya dalam beberapa hal.

Kemudian kami belajar seperti biasa. Aku nge-bully Teh Ica, percakapan tentang Harry Potter, dan beberapa hal pun langsung menjadi topik hangat di antara kami.

Aku ingat jam setengah 8 Mr. Febri mengetuk pintu dan masuk ke kelas. Awalnya aku sempat mengerjainya, tapi melihat ekspresinya, tatapan kosongnya yang menatap langit-langit kelas, dan tubuhnya yang menyender ke dinding (biasanya Mr. Febri tidak pernah menyender ke dinding jika memberi pengumuman), aku jadi berhenti.

"Pertama-tama Mr. mau ngucapin selamat tahun baru dan..."

Kata-katanya terhenti. Ia menatap langit-langit kelas sekali lagi, seakan hendak mencari kata yang tepat.

"Mungkin semacam minal aidzin, Mr?" tanya Mr. Irfan.

"Ngg...ya, betul. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin."

Jujur saja, kesan pertamaku adalah Mr. hendak minta maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan pihak Victory selama tahun 2012. Memang pada saat itu sedang menjelang Tahun Baru, jadi wajar bukan bila seseorang meminta maaf atas segala kesalahan di tahun yang akan kita tinggalkan?

"Yah... Kita semua dari Victory meminta maaf akan segala kesalahan yang telah kami perbuat di tahun 2012 ini..."

Ia terhenti lagi. Betul dugaanku bahwa Mr. Febri hendak meminta maaf. Sayangnya aku tak menduga kata-kata Mr. Febri masih ada lanjutannya.

"...dan, karena kalian, anak-anak level TOEFL sudah dianggap mampu oleh Victory, maka kami akan meluluskan kalian. Level ini akan ditutup, lagipula juga Victory sudah menganggap kalian mampu."

Tak ada di antara kami yang berbicara untuk beberapa waktu, termasuk aku dan Teh Ica yang biasanya sangat aktif dan suka membantah apa yang kami rasa tidak benar. Kami semua meresapinya dengan wajah shock, termasuk Ferico (yang biasanya bertampang tenang).

"Jadi Mr, ini pertemuan pertama dan terakhir Ica dong?" tanya Teh Ica.

Aku melihat wajah Teh Ica. Air mata sudah menggenang di dua sudut matanya.

"Hahaha, kan bagus," jawab Ferico.

"Benar Ferico! Supaya berkesan Teh," jawabku sambil mengacungkan jempol.

Aku tertawa, tapi jauh di dalam hatiku, perasaanku hancur. Saat itu aku belum menangis. Yah, belum menangis.

Beberapa saat setelah pembicaraan antara kami berlima (yang aku tak ingat lagi, jika tak salah nama Kak Akbar sempat disebut juga), Mr. Febri keluar kelas. Awalnya Mr. Irfan menawarkan untuk membahas kertas yang tadi belum selesai kami bahas karena masih jam 8 kurang 10, tapi aku menolak. Aku melipat kertas itu menjadi dua dan memasukkannya ke dalam tas. Sebagai gantinya kami malah membicarakan kenangan-kenangan kami. Aku juga sempat mengakui satu hal (yang untungnya disambut baik oleh Teh Ica dan Mr. Irfan dan tatapan tak mengerti dari Ferico).

Yeah, we talked about our experiences there. Our past years, when we were still studying there. Mr. Irfan shared a story, too, but I don't understand until now. Maybe it was about Ferico and Ica's friends, because they understood what Mr. Irfan talked about.

Akhirnya waktu habis. Kami turun ke bawah setelah berterima kasih, minta maaf, dan bersalaman dengan Mr. Irfan. Di bawah kami juga melakukan hal yang sama dengan Mr. Husni dan Bu Husni. Setelah itu aku berpelukan dengan Teh Ica.

Membayangkan tidak akan bertemu lagi dengan salah satu seniorku ini sudah cukup membuat air mataku mengalir. Aku benar-benar menangis di dalam pelukannya.

Aku menyeka air mataku dan tersenyum. Mataku sudah bengkak dan sangat merah pada saat itu, tapi setidaknya aku sudah berhenti mengalirkan air mata saat itu.

Aku mengucapkan dadah pada Ferico dan Teh Ica, kemudian berjalan pulang.

"Ah, harus pulang jalan," kata Teh Ica dengan nada mengeluh.

"Itu mah nasib aja Teh," jawabku.

"Wah, kamu masih sempet-sempetnya ya Mei nge-bully aku!" kata Teh Ica.

"Hehehe, peace Teh," kataku sambil membuat angka dua dengan tangan kananku.

Malam menggelap. Bulan yang terang perlahan ditutupi awan tipis.
Kami berpisah. Aku berjalan pelan menuju rumahku.
Tapi tanpa kusadari semua kenangan keluar dari otakku.
Tanpa kusadari pandanganku semakin kabur.
Dan tanpa kusadari air mata mengalir melalui pipi lagi.

Thanks for this five years, my English course. Leaving all of you is like leaving a half of my soul. I remember going there when I was mad, when I was bored at home, and when I would face TOEFL test in Junior High School. You're like my family, and leaving all of you is like a ship with captain, but without crew. I can live, but it's hard to live without them :')

***

PS: This is my original writing in 2012, so sorry if it's in a very hot mess. I don't wanna change it though. Let it be a reminder that I can change over time and everything will be okay. I can survive!