Pages

Taman Rahasia

Terinspirasi dari Bella

***

Ting!

Prana: Mari bertualang!

Prinka terlunjak. Matanya terbelalak. Siapa sangka Prana akan mengajaknya mengarungi dunia? Apalagi, libur panjang belum mengetuk.

Prinka: Tumben.

Ia meletakkan ponselnya di atas bantal. Tangannya kembali membalik halaman buku cetak tebal. Ia tak perlu menunggu lama hingga ponselnya berdenting.

Prana: Udah lama ga ketemu juga. Ayolah, masa kita ketemuan cuma pas libur panjang? Di mana esensi pacarannya?

Prinka terkikik. Dasar! Padahal, Prinka dan Prana sama-sama melanjutkan studi di jurusan teknik. Perguruan tinggi dan jurusannya memang berbeda, tapi bukan berarti mereka tak sibuk, bukan?

Prinka: Kapan?
Prana: Besok.
Prinka: Kalau ga ada asistensi mendadak ya.
Prana: Oke.

Prinka menyambar lemari bajunya. Ia harus mempersiapkan pakaian untuk kencan esok. Memang masih beberapa jam lagi, tapi Prinka bersikukuh untuk mempersiapkan diri. Pikirnya, ia tak ingin terlambat.

***

Selepas memarkirkan motor, Prana menggamit tangan Prinka. Ia menuntun Prinka melewati jalan terjal.

Tak ada yang berbicara. Prinka tersenyum kala menatap perhatian Prana padanya. Prana mencurahkan pikirnya untuk melindungi Prinka. Keduanya melangkah perlahan, menanjak menuju tempat yang masih misteri bagi Prinka.

Ketika keduanya mencapai puncak, Prinka memekik. Prana hebat! Ia berhasil menemukan padang bunga menawan. Semak belukar menjalar di beberapa sisinya. Rindangnya pohon tak menutupi kilau yang dipancarkan kelopak bunga yang tengah merekah.

Prana kembali menuntun Prinka. Mereka tergelak sembari menyusuri jalan setapak yang tak luas. Prana mengikis jarak dengan merangkul Prinka. Prinka menyandarkan kepala di lengan Prana.

"Dari siapa kamu tau tempat ini?" tanya Prinka. "Oh! Maksudku, tempat ini tersembunyi. Kau takkan mungkin menemukannya tanpa sengaja."

"Teman," balas Prana.

Prinka mengangguk.

Di tengah padang, keduanya terganggu dengan bau tak sedap. Prana menganggap bau itu adalah bau kotoran hewan. Awalnya, Prinka sepakat dengan Prana, namun ia tak tahan dengan sengatan bau itu. Akhirnya, setelah membujuk dan merajuk, Prana membantu Prinka mencari sumber bau itu.

Prana menyusuri semak belukar. Tak ada apapun. Langkahnya dibawa ke atas pohon. Ia tak menemukan apapun. Hingga, kala ia mendengar jeritan Prinka, ia segera turun dan melesat menghampiri kekasih hatinya.

Di hadapan mereka, ada mayat yang sudah membusuk. Seketika, keduanya bergandengan dan berlari menuju pos satpam terdekat.

28 November 2016

PS: Ingatkan saya bahwa saya tak cocok menulis teen fiction.