Pages

Pamit

Aneh.

Jujur, sudah lama aku tak menulis perasaanku secara resmi. Disertai kata-kata yang diuntai, pula. Beberapa tahun ke belakang, aku menyusunnya serampangan. Pikirku, toh hanya aku yang membacanya.

Namun, malam ini berbeda. Aku ingin menuangkan isi hatiku secara terbuka. Oh, bukan berarti aku ingin populer atau semacamnya. Aku hanya ingin merasa—apa, ya? Lega?

Selama ini, aku hanya berbicara pada tembok yang kubangun sendiri. Keberanianku lenyap kala hati memaksa otak berteriak. Pada akhirnya, otak merebut kendali. Hati dibungkam.

Biarkan aku buka tulisan ini dengan satu pengakuan: aku mencintai satu orang. Oh, malu sekali aku menuliskannya. Seharusnya, aku tak menenggelamkan diri dalam urusan bernama cinta. Bukan Meiya sekali, kan? Ditambah dengan kesibukanku yang menggila, rasanya aku tak percaya jika aku menyempatkan diri bersandar pada cinta. Oh, itu bukan urusan Meiya. Bukan sama sekali!

Seperti biasa, kututup jiwaku rapat-rapat dari pria lain. Jangan heran, aku memang selalu melakukan hal yang sama jika hatiku sudah memutuskan satu nama. Aku tak ingin berpaling dari nama itu. Sama sekali tidak!

Namun, setelah berlabuh, aku mengangkat jangkar. Malam ini, aku memutuskan untuk berlayar.

Bukankah gelombang terlalu ganas untuk kauterjang sendirian?

Itu benar. Jujur saja, aku takut menerjang gelombang. Mereka acak, bukan? Tak pasti, tak ada yang tahu sumber dan ujungnya. Jika aku memutuskan untuk terus berlabuh, setidaknya aku tahu aku akan aman. Namun, siapa yang betah berlama-lama bersandar di dermaga kosong? Breakwater melindungiku, kolam pelabuhan menaungiku, dermaga cukup kuat kupijak selamanya, tapi aku tak beranjak. Padahal, tak ada pelaut andal karena berlayar di kolam yang diam, bukan?

Jadi, malam ini, aku menurunkan layar. Kompasku berputar akibat kapal terombang-ambing. Sementara nakhoda kapal—aku—membanting setir beribu kali hanya agar kapal mengarah sesuai kemauanku.

Aku tidak lelah jatuh cinta. Sungguh, cinta itu menyenangkan. Aku merasa aman dalam dekapan dia yang berada dalam bayangku (tentu saja peluknya juga hanya berada dalam bayangku. Bodoh, bukan?). Namun, aku tak ingin berlabuh pada sesuatu yang belum tentu sandaranku. Biarlah aku menyeka keringat karena berulang kali melawan badai, asal aku tak pasrah begitu saja pada cinta.

Mungkin saja, di perjalanan nanti, aku bertemu dengan pelayar lain. Mungkin kami akan mengarungi samudera dengan kapal yang sama. Atau, bisa saja aku bertemu dengannya di pelabuhan antah-berantah. Kemungkinan lainnya adalah kami hanya saling menatap dan tak bersilang jalan. Gelombang dengan arah propagasi berbeda adalah penyebabnya.

Apapun itu, aku siap.

Jadi, selamat tinggal, dermaga kosongku. Aku pamit. Badai tanggung jawab menungguku di medan laga. Biarkan aku lepas dan menguasai badai-badai itu. Nanti, jika takdir menyatukan kita dalam benang bernama jodoh, kuharap kau tak menyambutku hampa. Atau, jika jalur kita jauh terpisah, kuharap kita akan sama-sama meraih senyum.

Hari ini, 18 November 2016, aku melepasmu.