Hujan belum berhenti kala aku bertatap wajah dengan angin. Ia, yang melanglang dan menyesap tiap inci dari misteri dunia, berhenti dan menatapku.
Berhenti? Bahkan, untuk sekadar mengistirahatkan tarikan napas, ia enggan.
Angin tak berkutik. Seolah-olah, ia mencair dalam tatapanku. Namun, aku menepis pikiran anehku. Yang benar saja! Dekat pun tidak, apalagi membuat angin, sang petualang ulung, tak berdaya!
Angin mendekat. Tatapnya lekat menyorot manikku. Mendadak, aku sadar bahwa tanah yang baru dipijaknya menghitam. Asap hitam membumbung dari jejaknya. Aku menelan ludah.
Akhirnya, setelah kami saling berhadapan, angin menghela napas. Belum ada kata yang menampakkan diri dari bibir tipisnya. Aku sendiri mendongak agar dapat menatap parasnya.
Akhirnya, angin berujar, “Apa kabar?”
Aku menaikkan alis. Untuk apa angin berbasa-basi denganku? Bahkan, kami tak pernah bercengkerama. Obrolan kami tak pernah melenceng dari seputar perkuliahan atau himpunan. Lalu, kini, angin yang megah berdiri di hadapanku dan menanyakan kabarku. Kupikir, aku harus mulai mengingat gelagatku akhir-akhir ini. Sebagai petinggi kampus, bisa saja angin hendak memperingatkanku atas tindak-tandukku yang tak pantas.
“Baik,” ucapku. “Kau sendiri?”
Wajah angin mengeras sebelum menjawab, “Sama.”
Angin memalingkan muka. Entah ke mana tatapnya menjurus, yang jelas ia membelakangiku.
Aku menghela napas. Sejujurnya, aku tak ingin bertemu dengan angin. Angin membuatku mengingat nama yang pernah akrab denganku. Temanku. Sahabatku seumur hidup.
“Hari ini cerah,” gumam angin.
Aku mengabaikannya. Pikiranku masih berpusat pada sahabatku. Oh, atau mungkin lebih baik kusebut mantan sahabat. Kurasa, istilah itu lebih tepat.
Lamunanku terputus ketika mendengar teguran, “Aku berbicara padamu.”
Aku memalingkan muka. Angin sudah menatapku lagi. Mau tak mau, aku menelan ludah.
“Ya?”
Angin menyindir, “Kau tak menjawabku.”
Aku menyahut, “Apa yang harus kujawab? Kau hanya menyatakan, ‘Hari ini cerah.’ Tanpa persetujuanku, siapapun akan sependapat denganmu.”
Sepertinya, ucapanku keterlaluan. Mata angin membesar. Mulutnya sedikit terbuka. Jelas sekali ia terperanjat. Namun, kata-katanya tercekat. Ia tak membantah kalimat-kalimatku. Jujur saja, hal ini membuat isi kepalaku berputar. Seorang angin, yang mati-matian menjaga harga dirinya, memilih untuk tak mengoreksi ucapan orang tanpa pangkat sepertiku?
“Maafkan aku,” pintaku. “Aku hanya—”
“Tak apa,” sergahnya. “Aku yang seharusnya memohon itu. Asing sekali rasanya berbicara denganku semendadak ini, bukan?”
Aku mengangguk enggan. Pendapatnya benar.
Biar kuceritakan alasan aku mengingat mantan sahabatku ketika aku menatap angin. Satu tahun yang lalu, kala langit masih biru dan samudera beriak kecil, dua sejoli memilih untuk bersatu. Mereka adalah angin dan mantan sahabatku. Jangankan aku, semesta saja menelan ludah melihat hubungan keduanya. Nama angin berdengung di seantero kampus kala ia memantapkan posisinya di jajaran petinggi kampus. Sementara itu, mantan sahabatku merekah semenjak ia bergabung dengan dunia hiburan. Keduanya sama-sama rupawan, dikenal banyak orang, dan berkepribadian baik. Dari jauh, keduanya tampak pantas bersatu.
Pikiranku buyar ketika angin bertanya, “Apa kabarnya?”
Mataku kembali bersitatap dengan rupa angin. Sorot matanya mengiris nyaliku.
“Siapa?” Akhirnya, aku memberanikan diri untuk membuka suara.
“Menurutmu?” sindirnya.
Ya, siapa lagi yang angin maksud selain mantan sahabatku? Hanya ia, kawan baikku saat kami masih bersekolah, irisan di lingkungan persahabatan kami. Mana mungkin aku yang pendiam bisa menyelam dalam dunia angin? Yang benar saja!
Lagi-lagi, aku membungkam mulutku sendiri. Aku kembali tenggelam dalam rimba ingatan.
Angin dan mantan sahabatku merajut kasih. Keduanya sama-sama mabuk cinta. Di sela himpitan kegiatan yang tak ada habisnya, keduanya mampu menemukan celah waktu untuk sekadar duduk di kedai kopi dan menatap hujan.
Pada masa itu, aku dan mantan sahabatku masih akrab. Aku tahu seluruh kemajuan hubungan keduanya. Mantan sahabatku tak pernah absen berceloteh riang tentang itu. Bahkan, aku muak mendengarnya. Hanya angin yang menyesap perhatiannya.
Walaupun aku tak suka cara mantan sahabatku mencintai angin, aku cukup rasional untuk tak mengatakan apapun. Cinta itu gila bukan? Jadi, kupilih untuk membungkam mulutku.
Aku beberapa kali bertemu dengan angin. Dalam beberapa kesempatan, mantan sahabatku memintaku menemaninya bertemu dengan angin. Aku tahu yang kulakukan akan membuatku tersiksa. Siapa yang suka terperangkap dalam kecanggungan menatap dua orang bermesraan di hadapanku? Namun, kala itu, aku tak ingin mengecewakan mantan sahabatku.
“Halo?”
Suara angin terdengar lagi, tapi aku enggan berhenti berpikir. Jadi, aku lanjut mengingat perjalanan cinta keduanya.
Hubungan angin dan mantan sahabatku berkembang ke arah yang tak sehat. Tak sehat menurutku, ya. Jika mereka mendengarnya, pasti mereka tak sependapat denganku. Yang jelas, mereka mulai melakukan hal yang tak pantas. Aku terperangah tiap kali mantan sahabatku menceritakan hal itu tanpa perasaan bersalah. Aku berulang kali mengutarakan keberatanku, tapi mantan sahabatku malah mencibirku. Kampungan, katanya!
Perlahan, aku membentangkan jarak. Perilaku keduanya sudah tak dapat kutoleransi. Aku tak ingin tenggelam dalam jurang kenistaan serupa.
Beberapa hari sejak aku tak berhubungan lagi dengan mantan sahabatku, satu kampus digegerkan dengan berita perpisahan keduanya. Aku saja tersedak kala mendengar kabar itu. Mengapa mereka memutuskan untuk berpisah secepat itu? Dalam ingatanku, sebelum aku memblokir kontak mantan sahabatku, ia masih asyik berceloteh tentang kisah kasihnya.
Kejadian itu sudah terjadi satu tahun yang lalu. Angin sudah turun dari jabatannya dulu dan naik ke posisi yang lebih tinggi. Mantan sahabatku memilih berhenti kuliah dan masuk ke sekolah model. Aku dan mantan sahabatku tak pernah berbincang atau bertatap muka lagi. Dunia kami tersegregasi sempurna.
Angin mengguncang pundakku. Aku kembali terperangkap dalam sorot matanya. Akhirnya, aku membalas, “Untuk apa kau menanyakannya?”
Angin mengangkat bahu.
“Hanya penasaran.”
Aku menepis tangannya yang masih bersarang di bahuku.
“Tanyakan saja sendiri,” ucapku.
“Aku tak tahu kontak barunya,” aku angin.
Aku mengangkat alis, namun aku berkata, “Aku juga.”
Sebelum angin sempat melayangkan beribu tanya, aku membalikkan badan. Aku memilih menghadapi badai daripada menjawab tiap jengkal pertanyaannya.
13 November 2016