Pages

Kolaborastra Hari 3: Felix Sang Pandai Perbaikan




[13/09/2017]


Selamat datang di Desa Abhiyoga. Tak banyak yang dapat kau lakukan di desa ini, namun, jika kau membutuhkan bantuan, kau bisa menemui Felix. Bengkel Felix terletak dekat pintu masuk desa. Jika kau bertanya alasan Felix bisa membantumu, jawabannya satu: Felix mampu memperbaiki apapun. Sebut saja segala masalahmu: atap bocor, tungku retak, hingga asmara yang hancur akibat pihak ketiga. Felix pasti akan memperbaikinya.

Kisah ini dimulai setelah Felix melayani pelanggan terakhirnya: seorang nenek yang tak sengaja menginjak gigi palsunya. Felix melirik jam. Jarum pendek tepat menunjuk ke angka sembilan. Akhirnya, Felix memutuskan untuk menutup bengkel dan beristirahat.

Saat ia menutup garasi bengkel, matanya menangkap bayangan seorang gadis kecil yang tergopoh-gopoh membawa kardus besar. Karena iba, ia mendekat dan menawarkan bantuan.

“Pak Felix,” sapa gadis kecil.

Felix tak dapat menatap rupa gadis kecil. Saat wajah sang gadis tersorot lampu jalan, barulah ia terbelalak. Gadis kecil itu merupakan anak dari satu pengusaha sukses di desa. Sorot matanya cerdas; persis tajam tatapan ayahnya.

“Ke mana kau hendak membawa kardus ini?” tanya Felix.

“Saya—”

Gadis kecil menunduk. Ia jelas menyembunyikan air mukanya. Felix ternganga.

Ada, ya, anak sepandai gadis kecil?

Gadis kecil mengangkat muka. Ia bertanya, “Apakah Pak Felix dapat membantu saya? Ada barang pecah belah yang remuk di kardus itu. Saya ingin Pak Felix membantu saya.”

Felix mengangguk. Ia berjalan menuju bengkelnya. Setelah membuka isi kotak, ia bergumam, “Gadis kecil, sekarang sudah terlalu larut bagi saya untuk bekerja. Esok pagi akan say—”

“Tak bisakah Anda selesaikan sekarang?” sela gadis kecil.

Felix terperanjat. Pantulan cahaya lampu bengkel bergerak di bola mata sang gadis kecil. Ia menahan isak dengan susah payah.

“Tapi, jika tidak sekarang, ayah dan ibu akan mengamuk di pagi hari.”

Dahi Felix mengerut. Biasanya, orang akan langsung mendatanginya jika terdapat kesalahan dalam rumah tangga mereka. Apakah gengsi menggerogoti pasangan yang hartanya melimpah?

“Baiklah,” ucap Felix setelah lama terdiam. Ia mengurungkan niat untuk menanyakan alasan gadis kecil berbuat demikian.

Felix menunjuk kursi di dekat pintu bengkel. Gadis kecil duduk di sana. Saat Felix tengah memperbaiki piring kedua, gadis itu tenggelam dalam lelapnya.

Gadis kecil manis sekali. Felix iba padanya. Ah, ia teringat pada anak perempuannya di kampung sebelah. Sepertinya, ia perlu mengambil satu hari libur. Ia tak ingat kali terakhir ia pulang.

Jarum pendek jam tepat menunjuk angka tiga ketika Felix berhasil merekatkan guci terakhir. Astaga, terlalu banyak barang pecah belah yang ia perbaiki. Lima piring dan empat guci kecil tersusun di sebelah meja. Pasti sulit membawanya.

Ia menata guci kecil dan piring di dalam kardus. Setelahnya, ia membangunkan gadis kecil.

“Gadis kecil, saya sudah selesai.”

Gadis kecil terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali. Setelahnya, Felix membantu membawakan barang pecah belah ke rumah gadis kecil.

Gadis kecil kreatif sekali. Ia menyelinap lewat pintu belakang (dan tanpa suara!). Beribu pertanyaan berdesakan dalam pikiran Felix, seperti: apakah gadis kecil pernah melakukan ini sebelumnya?

Malam itu, Felix tak bisa terlelap.

Hal itu terjadi berpuluh kali. Suatu hari, gadis kecil membawa kunci-kunci patah. Hari lainnya, gadis kecil membawa pecahan jendela. Sungguh, Felix tak keberatan membantu gadis kecil, kecuali saat ia memperbaiki jendela. Pasalnya, ia harus bekerja sesunyi mungkin di rumah gadis kecil.

Tiba-tiba, gadis kecil tak datang ke bengkelnya. Awalnya, Felix tak ambil pusing. Setelah tiga hari menghilang, barulah Felix bertandang ke rumah gadis kecil.

Saat berjalan ke rumah gadis kecil, angin dingin menyapa bulu kuduk. Firasat buruk melingkupi Felix. Tiba-tiba, ia kembali ke bengkel dan mengepak seluruh perkakas perbaikan dan pakaian. Ia memasukkan seluruh peralatan ke mobil pick up-nya dan melaju ke rumah gadis kecil.

Felix merasa ia telah gila. Untuk apa ia mengepak seluruh barangnya? Ia takkan pergi ke mana-mana.

Semakin dekat dengan rumah itu, anehnya, Felix merasa keputusannya tepat.

Ketika tiba di depan pagar, ia mengetukkan cincinnya pada pagar.

Senyap.

Firasat itu menguat. Felix terpaksa memanjat pagar.

Di depan pintu utama, Felix kembali mengetuk.

Hening.

Felix kembali mengetuk. Kali ini, gadis kecil muncul di jendela. Matanya sembap. Suaranya terdengar samar dari balik jendela.

“Papa dan Mama s-sudah lama per—ah, aku s-sendiri.”

Felix menggeram. Gadis kecil berjuang sendirian selama tiga hari. Pembantu di rumah juga pergi entah ke mana.

Melihat tas di punggung gadis kecil, Felix memutuskan bahwa gadis kecil telah siap pergi. Felix harus membawanya pergi dari neraka ini. Harus!

Ia meminta gadis kecil untuk membuka jendela, namun gadis kecil tak tahu caranya. Jadi, Felix mencari batu di pekarangan.

Seketika, Felix membeku.

Selama ini, Felix selalu memperbaiki. Ia tak pernah merusak apapun dan ia bangga dengan yang ia lakukan. Namun, apakah jati dirinya sebagai pandai perbaikan harus ia pertahankan?

Pandai perbaikan atau nyawa gadis kecil?

Ia melemparkan batu itu ke rumah gadis kecil. Seketika, ia membawa gadis kecil jauh dari desa. Mungkin, Felix akan menyuruh istrinya mengepak barang nanti. Mereka tak boleh bertahan jika ingin menyelamatkan kehidupan gadis kecil. Mungkin, mereka akan mengganti identitas.

Felix tak tahu masa depan yang ia hadapi. Yang jelas, ia dan gadis kecil tak pernah kembali ke Desa Abhiyoga.