[14/09/2017]
Matanya terbuka. Telah tiga malam ia terjaga. Pasalnya, saat ia berusaha memejam, otaknya memutar kejadian yang sama.
Seorang gadis berlari menembusnya. Sang gadis melompat ke jalan raya. Seketika, bus menabrak tubuh ringkih itu.
Tiap kali ia mengingat, bayang sang gadis semakin jelas. Darah sang gadis menggenang di jalan. Kepala sang gadis remuk tergilas ban bus dari ujung kepala hingga pangkal hidung. Gaun putih sang gadis memerah. Kakinya—
Ia menarik napas. Sulit menghentikan bayang sang gadis. Pasalnya, gadis itu adalah gadis tercantik yang ia temui. Oh, parasnya tak rupawan. Bahkan, kulitnya berwarna sawo matang. Namun, aura sang gadis begitu hidup. Sayang, ia tak pernah bertemu gadis sehidup itu di dunia nyata.
Ia menghela napas. Kepalanya menggeleng; berusaha menghilangkan bayangan buruk sang gadis. Sepertinya, ia perlu membeli obat tidur agar dapat terlelap malam berikutnya.
Ia lunglai melangkah ke kampus. Dalam hati, ia berharap fokusnya bertahan selama kuliah.
Dua mata kuliah ia lalui dengan kantuk. Saat mata kuliah ketiga dimulai, ia tak sengaja terlelap. Dosen sampai menyuruhnya mencuci muka.
Ia menyeret langkah ke toilet. Saat mencuci muka, ia bertemu kawannya. Ketika ditanya, ia terpaksa menjelaskan alasannya mencuci muka hingga merah.
“Mahasiswa berprestasi tertidur di kelas?” sindir kawannya. “Ada apa?”
Ia termenung. Seingatnya, kawannya ini memiliki pengalaman lebih di hal-hal yang menyangkut dunia lain serta mitos. Akhirnya, ia menjelaskan mimpinya.
Senyap.
“Kautahu,” mulai kawannya dengan suara rendah, “jika kau memimpikan seseorang hingga tiga malam berturut-turut, orang itulah jodohmu.” Kawannya menghela napas. “Namun, gadis dalam mimpimu telah meninggal. Apakah jodohmu telah meninggal?”
Ia menghardik kawannya. Ia menolak mempercayai ucapan yang tidak realistis.
Kawannya membeku. Kemudian, kawannya berujar, “Tak apa jika kau tak percaya.”
Kawannya keluar dari toilet. Ia kembali sendirian.
Saat ia melangkah keluar, tubuhnya dipeluk dari belakang. Ia tak dapat melepas erat rengkuh itu. Seingatnya, ia hanya sendirian—
Kepalanya menoleh ke cermin toilet. Perutnya jatuh.
Gadis berkepala remuk erat memeluk pinggangnya. Gadis itu tersenyum.
Seketika, dunianya berputar.
