[11/09/2017]
"Ekspresikan dirimu melalui untaian kata!"
Ia melirik poster yang terpampang di ponsel. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkan ponselnya ke atas kasur.
Basi.
Ia muak dengan kalimat seklise itu. Nyatanya, hanya goresan berisi kata-kata berat nan bermakna yang dihitung sebagai "sastra." Ia yang lebih senang berkisah tentang kasus, darah, dan kematian tak memiliki ruang di rak toko buku ternama.
Dalam sunyi, kepalanya berdenyut. Dengan batasan seperti itu, tanyanya tak bertemu jawab. Apakah ia tetap bertahan dalam dunia kepenulisan? Haruskah ia mu ndur, menjadi manusia realistis, dan menenggelamkan mimpi?
***
[12/09/2017]
Kantuk menyerang.
Ia meruntuk. Pasalnya, rumah masih jauh. Istri dan anaknya menunggu kehadirannya. Jika bukan karena batas waktu pekerjaan, ia takkan pulang lebih lambat dari jam pulang kantor.
Ia mengintip jam di tangan. Jarum pendek menunjuk di antara angka delapan dan sembilan. Akhirnya, ia memutuskan menepi setelah melihat satu supermarket
Sembari meneguk kopi, ia memperhatikan jalan yang mulai lengang. Karena kantuk, ia tidak sadar bahwa ia tengah menyetir melalui Jalan Dago. Padahal, Jalan Dago tak masuk rute menyetirnya.
Ia mencari penanda arah. Salah satu tulisan yang tertera di sana adalah Institut Teknologi Bandung.
Ia belum pernah menginjakkan kaki di sana. Tentu saja! Ia tidak cerdas atau tanggap. Ia bahkan tak pernah bermimpi kuliah di sana. Melanjutkan studi dengan dana terbatas saja sudah membuatnya merapal syukur, apalagi jika diterima di universitas (yang katanya) terbaik bangsa!
Ia tidak tahu-menahu mengenai ITB. Gosip mengenai lulusannya tak pernah ia ingat dengan jelas. Baginya, desas-desus seperti itu tak dapat dipercaya, karena tiap individu berbeda.
Yang jelas, ia berharap agar mahasiswa dan lulusannya tak menyerah. Indonesia butuh orang-orang cerdas, walaupun pada kenyataannya baru sedikit masyarakat yang menghargai pribadi-pribadi jenius.
Ia membuang kaleng kopi yang ia beli. Kemudian, ia masuk kembali ke mobil, dan memutar arah. Tak lama kemudian, ia menghilang ditelan gelap malam.

