Pages

Kolaborastra Hari 20: Temaram


[30/09/2017]

Senyap.

Sang pria termangu. Sinar rembulan tak benderang di ruang tempatnya meringkuk.

Baru kemarin ia menatap kekasihnya berdua saja dengan lelaki lain di kafe dekat rumah. Seketika, amarah meluap hingga ke ubun-ubun. Tanpa pikir panjang, ia menghajar lelaki itu.

Pertikaian tersulut. Baku hantam mengudara. Egonya tersulut. Darahnya mendidih. Tinju di

Ia tak sadar akan hal yang ia lakukan. Tidak ada yang berusaha menghentikannya. Tiba-tiba, lelaki asing itu tak bernapas lagi.

Sang pria lepas dari belenggu emosi. Pelan, ia menggoyang badan lelaki itu. Tanya demi tanya mengudara, namun hampa hadir sebagai jawab.

Sang pria membalikkan badan. Kekasihnya tak berkutik. Akhirnya, sang pria merentang tangan. Pikirnya, ia akan menyambut belahan jiwa untuk kembali dalam rengkuhnya. Sayang, kekasihnya memilih untuk berlari.

Ia tak cukup sadar untuk berlari. Akhirnya, ia menatap sekeliling. Rupanya, orang-orang berkumpul untuk menyaksikan pergumulan. Beberapa sosok malah mengangkat ponsel dan merekam kejadian.

Ah.

Begitulah akhirnya. Buronan, di ruangan kosong entah di mana, diburu polisi dan menyembunyikan sisa harga diri terakhir.

Lagipula, mengapa tak ada yang menghentikannya?