Pages

Kolaborastra Hari 8: Talak


[18/09/2017]

Apa lagi yang perlu dibawa?

Pandang sang wanita mengedar. Baju telah selesai dilipat di kotak. Peralatan dapur juga telah disusun sesuai ukuran dan fungsi dalam kardus. Furnitur yang dibeli dari tabungan juga telah diangkat dan dimasukkan ke truk.

Di samping, pria yang telah mengenalnya selama dua tahun menggelengkan kepala.

"Lelet," komentar sang pria.

Sang wanita tak menjawab.

"Udah sana, pergi. Kalau udah tau kamu nggak subur, nggak bakal saya nikahin."

Tanpa kata, sang wanita kembali masuk. Sang pria melayangkan protes dan mengejar, namun mereka berhenti di ruangan tak tersentuh.

"Kenapa? Ada yang mau diambil dari ruangan ini?" ejek sang pria.

Sang wanita diam menatap ruangan itu. Ruangan yang ia hias demi kelahiran buah hati. Ruangan tempatnya mentunaskan mimpi menggendong momongan. Ruangan tempat air ketubannya pecah.

Ah, ya. Anak semata wayangnya yang wafat di hari kelahiran. Kanker ovarium yang membuatnya tak bisa memiliki anak. Suami yang menceraikannya tak lama setelahnya.

"Tinggal aja. Buat istri berikutnya, biar nggak repot. Kalau dibawa kamu, jadi sampah juga, kan?"

Sang wanita masuk ke kamar itu dan mengambil satu selimut bayi. Ia tak lupa akan selimut itu: selimut yang ia persiapkan untuk membawa anaknya pulang. Anak semata wayangnya yang tak pernah merasakan hangat mentari di dekat jendela ruang tamu. Anak semata wayangnya yang tak pernah mencicip asi.

Sang wanita mengacungkan selimut. Sang pria mencibir, namun tak menghentikan sang wanita.

Sang wanita menarik napas sebelum bergegas.

Saatnya pergi.